Sebuah perjalanan etah itu pahit atau apa namanya. Yang membutuhkan sebuah kesabaran yang amat sangat besar. Ya!! Perjalan hidup namanya.. Sebuah putra lahir dari seorang ibu yang baru sembuh dari kanker serviks. Kanker yang sangat menakutkan bagi para wanita.
Perjalanan yang pahit yang dirasa sangat susah bagi seorang ibu dari awal kehamilan. Saat hamil yang sangat butuh perjuangan. Dimana selalu tak tahan bau asap. Mutahan dimana mana. Hanya bisa pasrah dan menangis dengan ujian ini. Akhirnya lahir putranya.
Dan.. Inilah awal dari sebuah perjuangan!! dari lahir hingga saat ini (umur 4 tahun). Lahir keluar tanpa menangis. Dia pun tidak bisa mengeluarkan air mata. Ya Allah tak tega melihatnya yang setiap hari harus dikasih mamahan bawang merah di ubun-ubunnya. Ya Allah entah bagaimana pedihnya. Kemudian beberapa halanganpun datang dan mengharuskan seorang ibu dan anaknya untuk pergi ke sebuah pengobatan tradisional yang amat sangat jauh dari rumah. Hujan, panas, siang, malam harus dilakoni seorang ibu demi kesembuhan anaknya. Kasian? Ya tentu kasian! Tapi keadaan yang mengharuskan!! Pedih? Sangat pedih. Usia 40 hari harus jalan malam2 keadaan hujan deras! Sangat menyakitkan. Ya Allah.. Padahal anak seusianya itu masih diam di kasur dalam dekapan ibu.
Sabar sabar dan sabar. Akhirnya, ibu pun memilih untuk membelikan rumah untuk dukun tersebut. Hutang sana sini akhirnya bisa juga rumah itu terbeli. Akhirnya orang itu pun pindah ke rumah yang baru ibu beli. Bahagia tentu saja karena tidak harus jauh jauh lagi untuk berobat. Namun, seiring berjalannya waktu, dukun tersebut banyak meminta imbalan. Bahkan beliau juga menginginkan uang pinjaman dari ibu. Namun dia meminjam uang yang sangat besar jumlahnya. Sekitar 20jt. Dengan ancaman jika ibu tidak mau meminjami uang tersebut maka pengobatan anaknya itu akan dihentikan.
Bagaimana mirisnya hati ibu tersebut? Tak ada seorang ibu yang tidak menginginkan anknya untuk sembuh. Kemudian ibu pun mencari penjaman lagi. Namun lama kelamaan orang tersebut malah kurang memperhatikan Danu (putra dari ibu itu) malah membuat banyak masalah dan akhirnya beliau diusir dari kampung tempat ibu itu tinggal.
Singkat cerita ibu pun bingung bagaimana kelanjutan terapi Danu itu. Namun ibu tidak pasrah. Ibu tetap mencari alternatif pengobatan lain. Banyak dokter yang didatanginya. Namun malah bantak dari sekian dokter tersebut yang mengatakan bahwa Danu sindrom. Ya. Perkataan yang sungguh menyakitkan.
Namun, usaha ibu tidak haya sampai diaitu. Ibu pun akhirnya mencari terapi di daerah Pekalongan. Dan ibu menemukan doketer yang cocok disana. Dokter terapi yang terapinya itu dijadwalkan 2x 1 minggu. Namun sama saja kasian Danu yang tiap hari kepanasan di jalan. Akhirnya terapi itupun dihentikan. Namun dokter menyatankan untuk mendaftarkan Danu ke PAUD namun. Apa daya sampai sekarang (umur 4 th) Danu belum bisa bicara selancar teman teman sebayanya. Paling dia hanya bicara sepatah dua patah kata. Paling hanya mamah, maem, tumbas (beli).
Sabar dan terus sabar yang harus dikebalkan. Semoga saja Danu cepet bisa bicara seperti teman teman sebayanya
~kilas kehidupan
*sabarlah dalam menghadapi ujian. Ingatlah. Banyak orang diluar sana yang kurang beruntung. Dan manfaatkanlah kehidupan sebaik-baiknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar